99 Cahaya
di Langit Eropa & Berjalan di Atas Cahaya.......
Adalah Adi, seorang teman saya yang memiliki
sebuah kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Setelah lebih dari 5 tahun
menjalin cinta dengan Rani, Adi terpaksa menelan kekecewaan karena Rani memilih
lelaki lain untuk dinikahi. Namun, cerita pasti hubungan asmara mereka dan
bagaimana cerita itu berakhir (unhappily)
adalah cerita yang bukan merupakan inti dari tulisan saya kali ini. Tulisan
saya kali ini akan menceritakan bagaimana Alloh Maha Baik terhadap hambaNya
yang meminta, termasuk hambanya yang meminta hidayah. Dan betapa hidayah tidak
hanya hadir dalam sebuah kajian atau pertemuan di masjid. Hidayah dapat datang
dari sebuah hal kecil semisal novel ringan tentang perjalanan seseorang di
benua biru.
Berawal dari makan siang bersama Adi dan
teman-teman yang lain di sebuah mall di bilangan Jakarta Barat, saya menemukan
sebuah novel yang kelak memberikan 'pencerahan kepada saya. Judul novel
tersebut telah saya tulis di awal tulisan saya ini, dan saya yakin Anda semua
banyak yang mengenal novel tersebut. Novel tersebut kini sedang dalam proses
untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Jasa Adi dalam proses saya menemukan
novel ini adalah ketika ia meminta saya untuk membeli novel tersebut sebagai
kado pernikahan bagi Rani. Kenapa ia tak membeli sendiri novel ini sudah tentu
dapat saya duga alasannya, tapi mengapa novel ringan yang tidak ada hubungannya
dengan pernikahan menjadi pilihan Adi untuk dihadiahkan kepada Rani memang
masih membingungkan. Saya tidak berani banyak bertanya, namun saya menduga
bahwa ini memang request dari Rani.
Saya dengar pun, mereka berdua masih memiliki hubungan yang baik. Sungguh suatu
hal yang langka melihat 2 orang yang akhirnya berpisah dapat berbesar hati
untuk tetap menjadi teman.
Singkat cerita, ketika sedang antri hendak
membayar novel tersebut di kasir, saya membaca sinopsis dan review dari novel tersebut di halaman
belakang novel. Akhirnya saya tahu, bahwa seorang Hanum Salsabiela Rais, yang
merupakan putri dari politisi terkenal Indonesia Amien Rais, bersama dengan
suami dan teman-temannya lah yang telah menulis novel tersebut. Novel tersebut
berisi tentang peristiwa-peristiwa menarik yang dialami Hanum ketika ia berada
di Eropa, dalam rangka mengikuti suaminya yang sedang melanjutkan pendidikan
doktoral di Austria. Cukup menarik, begitu pikir saya setelah membaca sinopsis
novel tersebut.
Cerita berlanjut ketika saya akhirnya (pada hari
yang lain) membeli novel tersebut untuk saya sendiri. Dan setelah saya baca,
malam itu saya tidak ingin tidur karena tidak ingin berhenti membaca novel
tersebut. Kala itu saya membaca buku pertama yang berjudul 99 Cahaya di Langit
Eropa. Hanum berhasil menyuguhkan gambaran lain tentang Eropa. Eropa tidak
hanya melulu tentang keindahan dan kemewahan, namun di Eropa ternyata ada jejak
Islam yang mengagumkan. Dan menurut saya, keberuntungan Hanum yang lain adalah
karena dia bertemu dengan orang-orang hebat yang dapat ia ceritakan dalam
novelnya tersebut. Sebut saja Fatma, lalu ada seorang kenalannya yang merupakan
mualaf yang berasal dari Prancis, Tuti Amaliyah, dan lain-lain.
Saya merasakan hidayah itu merasuki dada saya,
ketika saya membaca buku kedua yang berjudul Berjalan di Atas Cahaya. Jujur,
saya merasa malu setelah selesai membaca kedua novel tersebut. Kedua novel
tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan muslim sebagai minoritas di benua
yang terkenal dengan sekulerismenya. Betapa adzan disana adalah sesuatu yang
akan kau rindukan, karena adzan dilarang berkumandang dengan alasan akan
mengganggu. Betapa Rangga, suami Hanum pernah ditegur oleh atasannya hanya
karena ia mengerjakan shalat di ruang kerja pribadinya. Dan betapa sulit untuk
mencari sebuah pekerjaan di Eropa, hanya karena kau seorang muslim. Namun
mereka bertahan. Mereka tidak goyah. Bahkan mereka bertekad menjadi agen muslim
yang dapat menunjukkan kepada orang-orang yang sudah terlanjur memiliki
persepsi miring tentang apa itu islam sebenarnya. Mereka berjuang menunjukkan
bagaimana islam dapat disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil 'aalamiin, dengan tetap menegakkan syariat, yang sampai saat ini saya
rasa saya masih jauh dari itu, padahal saya di Indonesia.
Ya, saya di Indonesia. Suatu negeri yang walaupun
tidak menjadikan hukum islam sebagai hukum dasar negara, namun adzan dapat
berkumandang 5 kali sehari. Bersahut-sahutan dengan menggunakan mikrofon. Namun
entah berapa banyak muslim di negara ini, termasuk saya bahkan, sibuk
mendengarkan yang lain saat alunan yang dirindukan oleh saudara kita di Eropa
itu berkumandang. Di Indonesia, paling tidak di tempat saya bekerja, seorang
atasan akan mahfum apabila anak buahnya tidak ada di ruang kerjanya dengan
alasan sedang sholat. Bukan, bukan untuk sholat wajib, namun hanya untuk
sekedar sholat sunah. Di Indonesia, jika kau saudaraku di Eropa, mengaku
sebagai muslim, bahkan mengenakan hijab dalam keseharianmu, kau tidak perlu
khawatir akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ah, sungguh saya kufur nikmat.
Saya lahir di negeri ini dalam keadaan islam, dengan segala kemudahannya, namun
banyak syariat yang belum saya laksanakan. Padahal di sana, saudaraku
mati-matian berjuang menjalankan syariat dengan segala tantangan dan ancaman.
Ada sebuah cerita di dalam novel Berjalan di Atas
Cahaya yang menceritakan keirian saudari kita dari Serbia kepada muslim
Indonesia karena ia ditakdirkan untuk menjadi muslim sejak lahir, sehingga
menjadi muslim adalah bukan merupakan suatu pencarian jati diri yang cukup
melelahkan. Muslimah dari Serbia tersebut iri betapa muslimah dari Indonesia
tidak perlu membujuk keluarganya, hanya untuk mengijinkannya mengenakan hijab. Sungguh
malu saya memandang diri saya setelah membaca kisah tersebut. Kalaulah ia,
muslimah Serbia tersebut bertemu dengan saya, mungkin ia tidak akan iri, namun
ia akan menangis. Menangis menyayangkan saya yang kufur nikmat, karena dengan
segala kemudahan yang diberikan Allah kepada saya, saya masih berat menjalankan
syariatnya. Menangis berharap senadainya saya dan dia dapat bertukar tempat.
Ah saudariku, aku mungkin tidak tahu bagaimana
rupamu. Kau tidak mengenalku. Aku pun hanya mengenalmu melalui sebuah novel.
Tapi Allah mengirimkanmu sebagai hidayah untukku. Karena membaca ceritamu, aku
jadi malu dengan diriku. Aku malu kepada Tuhanku. Aku menangis dan berdoa, Ya
Allah ijinkan aku untuk menjalankan syariatMu dan bantulah aku untuk istiqamah
di jalanMu. Detik itu, saya bertekad untuk memperbaiki diri saya, terutama
dalam bidang agama. Saya juga ingin menjadi agen muslim. Menunjukkan kepada
dunia, apa dan bagaimana islam yang rahmatan
lil 'aalaamin.
Senin, 7 Oktober 2013
Semoga istiqamah adalah salah satu nikmat
yang akan diberikan Allah untukku..
Aamiin..
Catatan :
Adi dan Rani adalah nama yang telah penulis samarkan dengan maksud
tidak membuka cerita tentang orang lain sehingga menghindari ghibah dan fitnah.