Minggu, 09 Februari 2014

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA

99 Cahaya di Langit Eropa & Berjalan di Atas Cahaya.......

Adalah Adi, seorang teman saya yang memiliki sebuah kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Setelah lebih dari 5 tahun menjalin cinta dengan Rani, Adi terpaksa menelan kekecewaan karena Rani memilih lelaki lain untuk dinikahi. Namun, cerita pasti hubungan asmara mereka dan bagaimana cerita itu berakhir (unhappily) adalah cerita yang bukan merupakan inti dari tulisan saya kali ini. Tulisan saya kali ini akan menceritakan bagaimana Alloh Maha Baik terhadap hambaNya yang meminta, termasuk hambanya yang meminta hidayah. Dan betapa hidayah tidak hanya hadir dalam sebuah kajian atau pertemuan di masjid. Hidayah dapat datang dari sebuah hal kecil semisal novel ringan tentang perjalanan seseorang di benua biru.

Berawal dari makan siang bersama Adi dan teman-teman yang lain di sebuah mall di bilangan Jakarta Barat, saya menemukan sebuah novel yang kelak memberikan 'pencerahan kepada saya. Judul novel tersebut telah saya tulis di awal tulisan saya ini, dan saya yakin Anda semua banyak yang mengenal novel tersebut. Novel tersebut kini sedang dalam proses untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Jasa Adi dalam proses saya menemukan novel ini adalah ketika ia meminta saya untuk membeli novel tersebut sebagai kado pernikahan bagi Rani. Kenapa ia tak membeli sendiri novel ini sudah tentu dapat saya duga alasannya, tapi mengapa novel ringan yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan menjadi pilihan Adi untuk dihadiahkan kepada Rani memang masih membingungkan. Saya tidak berani banyak bertanya, namun saya menduga bahwa ini memang request dari Rani. Saya dengar pun, mereka berdua masih memiliki hubungan yang baik. Sungguh suatu hal yang langka melihat 2 orang yang akhirnya berpisah dapat berbesar hati untuk tetap menjadi teman.

Singkat cerita, ketika sedang antri hendak membayar novel tersebut di kasir, saya membaca sinopsis dan review dari novel tersebut di halaman belakang novel. Akhirnya saya tahu, bahwa seorang Hanum Salsabiela Rais, yang merupakan putri dari politisi terkenal Indonesia Amien Rais, bersama dengan suami dan teman-temannya lah yang telah menulis novel tersebut. Novel tersebut berisi tentang peristiwa-peristiwa menarik yang dialami Hanum ketika ia berada di Eropa, dalam rangka mengikuti suaminya yang sedang melanjutkan pendidikan doktoral di Austria. Cukup menarik, begitu pikir saya setelah membaca sinopsis novel tersebut.

Cerita berlanjut ketika saya akhirnya (pada hari yang lain) membeli novel tersebut untuk saya sendiri. Dan setelah saya baca, malam itu saya tidak ingin tidur karena tidak ingin berhenti membaca novel tersebut. Kala itu saya membaca buku pertama yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Hanum berhasil menyuguhkan gambaran lain tentang Eropa. Eropa tidak hanya melulu tentang keindahan dan kemewahan, namun di Eropa ternyata ada jejak Islam yang mengagumkan. Dan menurut saya, keberuntungan Hanum yang lain adalah karena dia bertemu dengan orang-orang hebat yang dapat ia ceritakan dalam novelnya tersebut. Sebut saja Fatma, lalu ada seorang kenalannya yang merupakan mualaf yang berasal dari Prancis, Tuti Amaliyah, dan lain-lain.

Saya merasakan hidayah itu merasuki dada saya, ketika saya membaca buku kedua yang berjudul Berjalan di Atas Cahaya. Jujur, saya merasa malu setelah selesai membaca kedua novel tersebut. Kedua novel tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan muslim sebagai minoritas di benua yang terkenal dengan sekulerismenya. Betapa adzan disana adalah sesuatu yang akan kau rindukan, karena adzan dilarang berkumandang dengan alasan akan mengganggu. Betapa Rangga, suami Hanum pernah ditegur oleh atasannya hanya karena ia mengerjakan shalat di ruang kerja pribadinya. Dan betapa sulit untuk mencari sebuah pekerjaan di Eropa, hanya karena kau seorang muslim. Namun mereka bertahan. Mereka tidak goyah. Bahkan mereka bertekad menjadi agen muslim yang dapat menunjukkan kepada orang-orang yang sudah terlanjur memiliki persepsi miring tentang apa itu islam sebenarnya. Mereka berjuang menunjukkan bagaimana islam dapat disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil 'aalamiin, dengan tetap  menegakkan syariat, yang sampai saat ini saya rasa saya masih jauh dari itu, padahal saya di Indonesia.

Ya, saya di Indonesia. Suatu negeri yang walaupun tidak menjadikan hukum islam sebagai hukum dasar negara, namun adzan dapat berkumandang 5 kali sehari. Bersahut-sahutan dengan menggunakan mikrofon. Namun entah berapa banyak muslim di negara ini, termasuk saya bahkan, sibuk mendengarkan yang lain saat alunan yang dirindukan oleh saudara kita di Eropa itu berkumandang. Di Indonesia, paling tidak di tempat saya bekerja, seorang atasan akan mahfum apabila anak buahnya tidak ada di ruang kerjanya dengan alasan sedang sholat. Bukan, bukan untuk sholat wajib, namun hanya untuk sekedar sholat sunah. Di Indonesia, jika kau saudaraku di Eropa, mengaku sebagai muslim, bahkan mengenakan hijab dalam keseharianmu, kau tidak perlu khawatir akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ah, sungguh saya kufur nikmat. Saya lahir di negeri ini dalam keadaan islam, dengan segala kemudahannya, namun banyak syariat yang belum saya laksanakan. Padahal di sana, saudaraku mati-matian berjuang menjalankan syariat dengan segala tantangan dan ancaman.

Ada sebuah cerita di dalam novel Berjalan di Atas Cahaya yang menceritakan keirian saudari kita dari Serbia kepada muslim Indonesia karena ia ditakdirkan untuk menjadi muslim sejak lahir, sehingga menjadi muslim adalah bukan merupakan suatu pencarian jati diri yang cukup melelahkan. Muslimah dari Serbia tersebut iri betapa muslimah dari Indonesia tidak perlu membujuk keluarganya, hanya untuk mengijinkannya mengenakan hijab. Sungguh malu saya memandang diri saya setelah membaca kisah tersebut. Kalaulah ia, muslimah Serbia tersebut bertemu dengan saya, mungkin ia tidak akan iri, namun ia akan menangis. Menangis menyayangkan saya yang kufur nikmat, karena dengan segala kemudahan yang diberikan Allah kepada saya, saya masih berat menjalankan syariatnya. Menangis berharap senadainya saya dan dia dapat bertukar tempat.

Ah saudariku, aku mungkin tidak tahu bagaimana rupamu. Kau tidak mengenalku. Aku pun hanya mengenalmu melalui sebuah novel. Tapi Allah mengirimkanmu sebagai hidayah untukku. Karena membaca ceritamu, aku jadi malu dengan diriku. Aku malu kepada Tuhanku. Aku menangis dan berdoa, Ya Allah ijinkan aku untuk menjalankan syariatMu dan bantulah aku untuk istiqamah di jalanMu. Detik itu, saya bertekad untuk memperbaiki diri saya, terutama dalam bidang agama. Saya juga ingin menjadi agen muslim. Menunjukkan kepada dunia, apa dan bagaimana islam yang rahmatan lil 'aalaamin.


Senin, 7 Oktober 2013

Semoga istiqamah adalah salah satu nikmat
yang akan diberikan Allah untukku..
Aamiin..


Catatan :

Adi dan Rani adalah nama yang telah penulis samarkan dengan maksud tidak membuka cerita tentang orang lain sehingga menghindari ghibah dan fitnah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar