Minggu, 18 Januari 2015

DIVERGENT IN MY PERSPECTIVE



Fri, Sept 19th, 2014

DIVERGENT. Secaran bahasa berarti berbeda atau berlainan. Dalam bahasa Inggris disinonimkan dengan different, distict, diverse, dan lain-lain. Ini adalah merupakan judul novel fiksi ilmiah karya penulis Amerika Serikat bernama Veronica Roth. Novel ini merupakan seri pertama dari novel trilogi Divergent. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film oleh Summit Entertainment pada tahun 2014.

Secara singkat novel ini bercerita tentang sebuah lokasi (dalam novel dituliskan adalah kota Chicago di masa depan) yang memiliki penduduk yang dikotak-kotakkan menjadi beberapa faksi menurut karakter mereka masing-masing. Faksi-faksi tersebut antara lain, faksi Candor yang memiliki sifat jujur (di dalam film digambarkan seolah-olah bekerja di pengadilan), faksi Erudite yang merupakan orang-orang jenius (di dalam film digambarkan bekerja di laboratorium), faksi Amity yang memiliki sifat suka damai, selalu bahagia, dan suka hidup dalam keharmonisan (yang entah kenapa di dalam film digambarkan sebagai petani yang mengolah lahan). Dua faksi berikutnya adalah Dauntless yang memiliki sifat pemberani sehingga mereka bertugas menjadi polisi penjaga keamanan untuk mengamankan kota dan faksi Abnegatioan yang memiliki sifat penolong. Faksi Abnegation ini berjiwa sosial bahkan mereka menampung orang-orang yang tidak masuk ke dalam 5 faksi yang ada (di dalam film digambarkan seperti gelandangan). Karea kecenderungan Abnegation untuk melayani masyarakat, mereka dipercaya menjadi pengelola pemerintahan.
Adalah Tris Prior (pada awal film bernama Beatrice Prior) putri dari Andrew Prior yang merupakan salah satu petinggi faksi Abnegation telah menginjak usia dewasa, sehingga ia harus menjalani semacam tes kepribadian untuk menentukan di faksi manakah dia akan bergabung. Namun yang sungguh mengejutkan ternyata Tris memiliki kepribadian Abnegation, Erudite, dan Dauntless. Petugas yang melakukan pengujian kepadanya memasukkannya ke dalam faksi Abnegation secara manual, dan meminta Tris segera meninggalkan lokasi ujian dan tidak mengatakan kepada siapapun tentang hasil uji kepribadian yang sesungguhnya. Orang semacam Tris ternyata disebut divergent, yang mana oleh kebanyakan orang dianggap berbahaya karena dapat merusak sistem faksi.
Tris yang sejak kecil telah mengagumi Dauntless yang menurutnya lepas, bebas, dan pemberani, memutuskan untuk memilih Dauntless sebagai faksinya pada hari pemilihan. Dalam masyarakat ini, faksi di atas keluarga, yang artinya ketika Tris memutuskan untuk menjadi seorang Dauntless, maka ia harus meninggalkan keluarganya. Untuk menjadi anggota Dauntless ternyata tidak mudah bagi Tris. Ia harus melewati berbagai pelatihan dan ujian. Pelatihan dan ujian itu membuatnya mengenal lebih dekat instrukturnya yang bernama Four yang kelak menjadi kekasihnya.
Konflik utama dalam film ini adalah ketika pimpinan Erudite merasa bahwa faksi mereka lah yang seharusnya menjalankan pemerintahan dan bukannya faksi Abnegation. Konfilk diperparah dengan tidak setujunya Erudite atas keputusan Abnegation  untuk menampung para Divergent (Erudite merasa Divergent harusnya dibunuh). Dengan hasil penelitian mereka Erudite memanipulasi faksi Dauntless menggunakan sebuah serum yang merubah Dauntless menjadi semacam robot yang tidak sadar dan digerakkan oleh mesin pengontrol untuk menggulingkan faksi Abnegation. Disinilah Tris dan Four berjuang bersama untuk mengahalangi Erudite menghansurkan Abnegation.
Pesan moral yang paling menyentuh saya dari film ini adalah bahwa begitu pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena terbukti Erudite yang jenius ternyata dapat memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mengalahkan yang mereka anggap musuh. Dan disinilah juga pentingnya menyeimbangkan apa yang disebut IQ dengan EQ dalam kehidupan nyata. Karena IQ tanpa didampingi dengan EQ yang baik tentu menjadi rawan untuk disalahgunakan. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang baik intelektualitas maupun spiritualitas. Saya rasa itulah nilai yang dapat saya ambil dalam film ini. Kuat dalam spiritual namun tidak peduli dengan ilmu penetahuan hanya akan membuat kita dibodohi oleh mereka yang lebih cerdas. Namun janganlah menjadikan ilmu pengetahuan segalanya, karena ilmu pengetahuan ini tanpa didampingi dengan kualitas spiritual niscaya hanya akan membawa kesesatan.
Sekian sedikit tulisan tentang buah pemikiran saya yang terus berusaha mengambil setiap pelajaran dari semua kejadian yang ada, bahkan ketika saya sedang melihat suatu film. Semoga bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan saya pada khususnya. Terima kasih, sampai jumpa di tulisan berikutnya

Semoga Alloh memberi kemampuan untuk membedakan
yang baik dan yang buruk
sehingga kita tidak tersesat
aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar