Siapa
sih yang tidak tahu apa itu gojek? Apalagi orang Jakarta, jangan – jangan
kesehariannya pun kemana – mana diantar supir gojek? *sambil tunjukdiri sendiri
Fenomena
gojek memang sempat menjadi polemik. Ada yang senang dengan pemanfaatan
kemajuan teknologi ini, namun juga ada pihak – pihak yang merasa dirugikan. Apa
pun itu, memang segala sesuatu pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif.
Pun sebuh perkembangan teknologi.
Sudah,
cukup lah sampai di sini saya membicarakan tentang gojek. Bukan pro dan kontra
tentang gojek yang sebenarnya ingin saya tulis di sini. Lalu apa…?
Adalah
merupakan sifat dasar manusia menjadi rakus dan suka mengeluh. Jika ia mendapat
kesenangan, bukannya ia bersyukur namun ia ingin lebih banyak, lebih, dan lebih
lagi. Sedikit saja ia ditimpa kesusahan, makan keluhannya seolah – olah ia
tidak pernah mendapat kesenangan seumur hidupnya. Ya itulah manusia. Termasuk
saya.
Itulah
yang saya pikirkan ketika pertama kali membaca sebuah berita tentang supir
gojek yang menipu perusahaan tempat ia bekerja. Dua modus yang pernah saya
baca. Yang pertama tentang seorang supir ojek yang biasanya mengantar istrinya
pergi dan pulang kerja. Hal seperti itu ia lakukan setiap hari. Namun kini
adaperubahan dalam rutinitas tersebut. Sebelum diantar pergi oleh sang suami,
si istri terlebih dahulu memesan gojek lewat aplikasi di hapenya. Kemudian sang
suami mengambil order tersebut. Dan berangkatlah mereka berdua menuju tempat
kerja si istri. Apa yang terjadi? Tentu saja perusahaan gojek akan mencatat
order fiktif tersebut sebagai order
betulan. Dengan kondisi promo, maka si supir akan mendapat subsidi dari
perusahaan atas order tersebut. Padahal bukankah memang itu yang ia lakukan
setiap hari?
Sejujurnya
ketika membaca berita itu, yang pertama kali ada di pikiran saya adalah rasa
kagum. Bagaimana mungkin mereka memiliki ide secemerlang itu. Tapi pemikiran
saya berubah ketika saya membaca berita yang lain. Bahwa hal tersebut (order
fiktif) banyak dilakukan oleh para supir gojek. Entah teman mereka berpura –
pura menjadi customer, padahal sebenarnya ia dan temannya itu hendak pergi ke
suatu tempat. Atau ia sendiri memesan dengan hape miliknya yang lain. Pokoknya
ada sajalah modus tersebut. Dari situlah saya tahu, bahwa ini bukanlah suatu
kecerdasan. Ini adalah sifat rakus.
Tidakkah
cukup aplikasi gojek ini membantu para supir dalam menemukan penumpang?
Tidakkah cukup kemudahan yang dirasakan supir gojek dengan memiliki GPS. Kenapa
masih saja ada yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dengan merugikan
perusaan yang membantu mereka.
Miris
yang saya rasakan bertambah ketika suatu hari saya melihat seorang supir gojek
jatuh dari motor ketika sedang mengendarai motornya. Bukan karena ditabrak,
bukan karena jalan licin, tapi karena sedang mengendarai motornya sambil
melihat handphone. Lihatlah lihat! Bagaimana suatu yang baik jika digunakan
oleh orang yang tidak baik, maka sesuatu tersebut akan tidak baik juga.
Handphone
adalah sebuah teknologi yang sangat baik. Seiring dengan perkembangannya ia
bahkan lebih baik karena dilengkapi dengan aplikasi – apliakasi yang memudahkan
penggunanya termasuk aplikasi gojek ini . lalu bagaimana jika teknologi yang
baik ini berada di tangan seorang supir yang tidak bertanggung jawab. Maka
malapetakalah yang akan ada.
Untung
saya ketika itu ia jatuh sendiri, tidak melukai siapa pun. Namun bagaimana jika
ketika itu ia sedang membawa penumpang. Atau bagaimana jika bukannya jatuh tapi
ia malah menabrak seorang pejalan kaki. Pernahkah hal tersebut terlintas di
pikirannya.
Maka
dari itu, sembari menulis blog ini, saya mengingatkan pada diri sendiri. Untuk
selalu bijak dalam menghadapi segala sesuatu. Marilah kita manfaatkan sebuah
kemajuan dengan tetap meminimalkan efek samping dari kemajuan tersebut. Marilah
kita bijak menghadapi sebuah perkembangan.
Semoga
Alloh..
Senantiasa
membuka hati saya
Untuk
melihat dan memaknai
Setiap
kejadian
Dengan
lebih bijaksana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar