Jumat, 11 September 2015

BIJAK MENGHADAPI PERKEMBANGAN JAMAN





Siapa sih yang tidak tahu apa itu gojek? Apalagi orang Jakarta, jangan – jangan kesehariannya pun kemana – mana diantar supir gojek? *sambil tunjukdiri sendiri

Fenomena gojek memang sempat menjadi polemik. Ada yang senang dengan pemanfaatan kemajuan teknologi ini, namun juga ada pihak – pihak yang merasa dirugikan. Apa pun itu, memang segala sesuatu pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif. Pun sebuh perkembangan teknologi.

Sudah, cukup lah sampai di sini saya membicarakan tentang gojek. Bukan pro dan kontra tentang gojek yang sebenarnya ingin saya tulis di sini. Lalu apa…?

Adalah merupakan sifat dasar manusia menjadi rakus dan suka mengeluh. Jika ia mendapat kesenangan, bukannya ia bersyukur namun ia ingin lebih banyak, lebih, dan lebih lagi. Sedikit saja ia ditimpa kesusahan, makan keluhannya seolah – olah ia tidak pernah mendapat kesenangan seumur hidupnya. Ya itulah manusia. Termasuk saya.

Itulah yang saya pikirkan ketika pertama kali membaca sebuah berita tentang supir gojek yang menipu perusahaan tempat ia bekerja. Dua modus yang pernah saya baca. Yang pertama tentang seorang supir ojek yang biasanya mengantar istrinya pergi dan pulang kerja. Hal seperti itu ia lakukan setiap hari. Namun kini adaperubahan dalam rutinitas tersebut. Sebelum diantar pergi oleh sang suami, si istri terlebih dahulu memesan gojek lewat aplikasi di hapenya. Kemudian sang suami mengambil order tersebut. Dan berangkatlah mereka berdua menuju tempat kerja si istri. Apa yang terjadi? Tentu saja perusahaan gojek akan mencatat order fiktif tersebut sebagai order betulan. Dengan kondisi promo, maka si supir akan mendapat subsidi dari perusahaan atas order tersebut. Padahal bukankah memang itu yang ia lakukan setiap hari?

Sejujurnya ketika membaca berita itu, yang pertama kali ada di pikiran saya adalah rasa kagum. Bagaimana mungkin mereka memiliki ide secemerlang itu. Tapi pemikiran saya berubah ketika saya membaca berita yang lain. Bahwa hal tersebut (order fiktif) banyak dilakukan oleh para supir gojek. Entah teman mereka berpura – pura menjadi customer, padahal sebenarnya ia dan temannya itu hendak pergi ke suatu tempat. Atau ia sendiri memesan dengan hape miliknya yang lain. Pokoknya ada sajalah modus tersebut. Dari situlah saya tahu, bahwa ini bukanlah suatu kecerdasan. Ini adalah sifat rakus.

Tidakkah cukup aplikasi gojek ini membantu para supir dalam menemukan penumpang? Tidakkah cukup kemudahan yang dirasakan supir gojek dengan memiliki GPS. Kenapa masih saja ada yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dengan merugikan perusaan yang membantu mereka.

Miris yang saya rasakan bertambah ketika suatu hari saya melihat seorang supir gojek jatuh dari motor ketika sedang mengendarai motornya. Bukan karena ditabrak, bukan karena jalan licin, tapi karena sedang mengendarai motornya sambil melihat handphone. Lihatlah lihat! Bagaimana suatu yang baik jika digunakan oleh orang yang tidak baik, maka sesuatu tersebut akan tidak baik juga.

Handphone adalah sebuah teknologi yang sangat baik. Seiring dengan perkembangannya ia bahkan lebih baik karena dilengkapi dengan aplikasi – apliakasi yang memudahkan penggunanya termasuk aplikasi gojek ini . lalu bagaimana jika teknologi yang baik ini berada di tangan seorang supir yang tidak bertanggung jawab. Maka malapetakalah yang akan ada.

Untung saya ketika itu ia jatuh sendiri, tidak melukai siapa pun. Namun bagaimana jika ketika itu ia sedang membawa penumpang. Atau bagaimana jika bukannya jatuh tapi ia malah menabrak seorang pejalan kaki. Pernahkah hal tersebut terlintas di pikirannya.

Maka dari itu, sembari menulis blog ini, saya mengingatkan pada diri sendiri. Untuk selalu bijak dalam menghadapi segala sesuatu. Marilah kita manfaatkan sebuah kemajuan dengan tetap meminimalkan efek samping dari kemajuan tersebut. Marilah kita bijak menghadapi sebuah perkembangan.


Semoga Alloh..
Senantiasa membuka hati saya
Untuk melihat dan memaknai
Setiap kejadian
Dengan lebih bijaksana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar