Cita - cita dan ambisi adalah dua hal yang terlihat mirip
Namun mereka sejatinya berbeda
Cita - cita membuat kita berjuang
Ambisi membuat kita lupa tujuan
Cita - cita itu menguatkan
Ambisi itu melemahkan
Cita - cita membawamu terbang tinggi
Ambisi membawamu mengkhayal tinggi
Maka kembalikan semua kepada Rabb mu
Agar cita - citamu tidak berubah menjadi ambisi
Agar mimpimu tidak menjadi semu
Agar tujuanmu tetap nyata terlihat
Dan cita - cita membuatmu lebih kuat
Sebuah catatan, pengingat, pengabadian buah pikiran, dan pengasah kreativitas...
Senin, 18 Maret 2019
Senin, 11 Januari 2016
MATA, HATI, TELINGA
Aku
tahu aku belum sempurna menjalankan tugasku. Aku tahu bahwa kegagalan kemarin ,
salah satunya adalah karena kesalahanku. Aku tak pernah merasa bahwa aku lebih
baik dari dia, tapi apakah memang tak pernah kau dengar bagaimana orang
bercerita tentang perangainya.
Wahai
pengemban amanah, aku tahu bebanmu sungguh berat. Dan maafkan aku yang tak
berhasil membantumu, bahkan turut andil dalam salah satu kegagalanmu. Tapi apakah
bijak jika engkau menutup mata, hati, dan telingamu atas nasib mereka yang
sangat bergantung kepada keputusanmu itu…
Bukalah
mata dan telingamu. Seluruh dunia telah membicarakan betapa buruk perangai
tangan kananmu itu. Entah apa yang telah ia ucapkan kepadamu, hingga kau dengan
mudahnya bertekuk lutut dan menuruti semua sarannya. Lihatlah nasib mereka yang
tertindas karena keputusanmu itu. Tolong, bukalah hatimu….
Sungguh
aku tak ingin kau termasuk ke dalam golongan orang – orang yang dzolim wahai
pengemban amanah. Aku tahu kau bukan orang jahat. Tapi dengan caramu menutup
mata, hati, dan telingamu atas kedzoliman yang terjadi di depan matamu; padahal
kau sanggup untuk mencegah kedzoliman itu terjadi; adalah merupakan suatu
bentuk kedzoliman yang lebih besar wahai pengemban amanah.
Maafkan
aku, wahai pengemban amanah. Yang hanya sanggup mengingatkanmu dengan doa. Pintaku
hanya semoga engkau mau membuka mata, hati, dan telingamu. Karena engkau sang
pengemban amanah. Begitu banyak nasib orang yang bergantung kepada keputusanmu.
Semoga Alloh senantiasa menunjukkan jalan yang tepat bagimu mengambil
keputusan..
Tuesday, January 12, 2016
Catatan seorang
wanita lemah..
Yang telah
gagal dalam salah satu tugasnya..
Dan hanya bisa
berharap kepada kebijakan sang pengemban amanah..
Untuk menegakkan
keadilan..
Seraya senantiasa
berdoa..
Semoga tiada
pernah menjadi golongan orang –orang yang gemar mendzolimi orang lain dan
dirinya…
Jumat, 11 September 2015
BIJAK MENGHADAPI PERKEMBANGAN JAMAN
Siapa
sih yang tidak tahu apa itu gojek? Apalagi orang Jakarta, jangan – jangan
kesehariannya pun kemana – mana diantar supir gojek? *sambil tunjukdiri sendiri
Fenomena
gojek memang sempat menjadi polemik. Ada yang senang dengan pemanfaatan
kemajuan teknologi ini, namun juga ada pihak – pihak yang merasa dirugikan. Apa
pun itu, memang segala sesuatu pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif.
Pun sebuh perkembangan teknologi.
Sudah,
cukup lah sampai di sini saya membicarakan tentang gojek. Bukan pro dan kontra
tentang gojek yang sebenarnya ingin saya tulis di sini. Lalu apa…?
Adalah
merupakan sifat dasar manusia menjadi rakus dan suka mengeluh. Jika ia mendapat
kesenangan, bukannya ia bersyukur namun ia ingin lebih banyak, lebih, dan lebih
lagi. Sedikit saja ia ditimpa kesusahan, makan keluhannya seolah – olah ia
tidak pernah mendapat kesenangan seumur hidupnya. Ya itulah manusia. Termasuk
saya.
Itulah
yang saya pikirkan ketika pertama kali membaca sebuah berita tentang supir
gojek yang menipu perusahaan tempat ia bekerja. Dua modus yang pernah saya
baca. Yang pertama tentang seorang supir ojek yang biasanya mengantar istrinya
pergi dan pulang kerja. Hal seperti itu ia lakukan setiap hari. Namun kini
adaperubahan dalam rutinitas tersebut. Sebelum diantar pergi oleh sang suami,
si istri terlebih dahulu memesan gojek lewat aplikasi di hapenya. Kemudian sang
suami mengambil order tersebut. Dan berangkatlah mereka berdua menuju tempat
kerja si istri. Apa yang terjadi? Tentu saja perusahaan gojek akan mencatat
order fiktif tersebut sebagai order
betulan. Dengan kondisi promo, maka si supir akan mendapat subsidi dari
perusahaan atas order tersebut. Padahal bukankah memang itu yang ia lakukan
setiap hari?
Sejujurnya
ketika membaca berita itu, yang pertama kali ada di pikiran saya adalah rasa
kagum. Bagaimana mungkin mereka memiliki ide secemerlang itu. Tapi pemikiran
saya berubah ketika saya membaca berita yang lain. Bahwa hal tersebut (order
fiktif) banyak dilakukan oleh para supir gojek. Entah teman mereka berpura –
pura menjadi customer, padahal sebenarnya ia dan temannya itu hendak pergi ke
suatu tempat. Atau ia sendiri memesan dengan hape miliknya yang lain. Pokoknya
ada sajalah modus tersebut. Dari situlah saya tahu, bahwa ini bukanlah suatu
kecerdasan. Ini adalah sifat rakus.
Tidakkah
cukup aplikasi gojek ini membantu para supir dalam menemukan penumpang?
Tidakkah cukup kemudahan yang dirasakan supir gojek dengan memiliki GPS. Kenapa
masih saja ada yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dengan merugikan
perusaan yang membantu mereka.
Miris
yang saya rasakan bertambah ketika suatu hari saya melihat seorang supir gojek
jatuh dari motor ketika sedang mengendarai motornya. Bukan karena ditabrak,
bukan karena jalan licin, tapi karena sedang mengendarai motornya sambil
melihat handphone. Lihatlah lihat! Bagaimana suatu yang baik jika digunakan
oleh orang yang tidak baik, maka sesuatu tersebut akan tidak baik juga.
Handphone
adalah sebuah teknologi yang sangat baik. Seiring dengan perkembangannya ia
bahkan lebih baik karena dilengkapi dengan aplikasi – apliakasi yang memudahkan
penggunanya termasuk aplikasi gojek ini . lalu bagaimana jika teknologi yang
baik ini berada di tangan seorang supir yang tidak bertanggung jawab. Maka
malapetakalah yang akan ada.
Untung
saya ketika itu ia jatuh sendiri, tidak melukai siapa pun. Namun bagaimana jika
ketika itu ia sedang membawa penumpang. Atau bagaimana jika bukannya jatuh tapi
ia malah menabrak seorang pejalan kaki. Pernahkah hal tersebut terlintas di
pikirannya.
Maka
dari itu, sembari menulis blog ini, saya mengingatkan pada diri sendiri. Untuk
selalu bijak dalam menghadapi segala sesuatu. Marilah kita manfaatkan sebuah
kemajuan dengan tetap meminimalkan efek samping dari kemajuan tersebut. Marilah
kita bijak menghadapi sebuah perkembangan.
Semoga
Alloh..
Senantiasa
membuka hati saya
Untuk
melihat dan memaknai
Setiap
kejadian
Dengan
lebih bijaksana
Selasa, 14 April 2015
REJEKI ANAK SOLEH
Wed,
April 14th 2015
Rejeki anak soleh…
Itu kalimat yang sering saya dengar
apabila teman – teman saya mendapatkan sesuatu yang tidak mereka duga
sebelumnya. Jadi, judul post saya kali ini adalah rejeki anak soleh, bukan
karena saya merasa soleh, tapi karena saya mendapat sesuatu yang tidak saya
sangka sebelumnya. Dan sampai sekarang masih suka mikir, kok ya bisa gitu..
Awal ceritanya, kemarin hari Jumat
saya mengajak teman saya untuk datang ke pengajian di Masjid Istiqlal pada hari
Minggu. Di hari itu K.H Abdullah Gimnastiar atau yang akrab disebut Aa Gym akan
memberikan tausiah. Namun teman saya sempat ragu karena di hari itu adalah hari
terakhir inacraft di JCC. Rupanya ia ingin datang ke perhelatan pameran produk
Indonesia terbesar yang hanya diadakan setahun sekali itu. Saya sebagai orang
yang suka jalan – jalan, ya tentu saja tergoda juga.
Namun alhamdulillah, Alloh masih
meluruskan niat kami, sehingga akhirnya kami putuskan untuk tetap pergi
mengaji, baru setelah itu lanjut ke JCC. Dalam tausiahnya Aa Gym berkata bahwa kita tidak tahu rejeki kita ada di mana,
tapi rejeki tau kita ada di mana. Rejeki itu nanti akan mendatangi kita. Tanpa
mengesampingkan pentingnya ikhtiar, maksud Aa Gym disini adalah dalam
berikhtiar itu tetap harus ingat kepada Alloh, tidak perlu lah terlalu ngoyo. Karena kalau memang rejeki kita,
ngga akan kemana – mana kok.
Dan di hari itu juga Alloh
membuktikannya kepada saya. Singkat cerita ketika kami keluar dari halte busway
JCC dan baru saja masuk ke pagar JCC, ada seorang Ibu yang mendekati kami.
Beliau bertanya kepada saya, mbak mau
masuk ke JCC ya? Saya jawab, iya Bu.
Lalu dia bilang, ini sayapunya banyak
tiket. Lalu dia memberikan masing – masing sebuah tiket kepada saya dan
teman saya. Lalu saya bertanya lagi, saya
bayar berapa Bu? Kata Ibu itu, Tidak
usah. Nah lo, rejeki ngga kemana – mana kan.
Alhamdulillah….
Kita tidak tahu rejeki kita ada di mana
Tapi rejeki tahu kita ada di mana
-Aa Gym-
Minggu, 25 Januari 2015
Coba - coba asuransi
Apa yang saya tulis kali ini adalan merupakan buah pemikiran pribadi. Tidak ada maksud untuk men-judge, menilai, atau menyalahkan. Semua hanya murni pemikiran pribadi. Dan tentu saja saya terbuka atas kritik dan saran yang diberikan kepada saya, tapi dengan hormat saya tidak ingin ada perdebatan.
Dari pemahaman saya, dengan ilmu saya yang masih minim ini, yang saya tau asuransi (dalam post ini, asuransi = asuransi konvensional bukan asuransi syariah) dalam Islam adalah haram. Dari berbagai info yang saya cari, secara garis besar keharamannya disebabkan karena asuransi ini mirip judi,memiliki unsur spekulasi; kemudian ada unsur ketidakjelasan tentang kapan klaim akan diberikan dan jumlahnya; lalu adanya unsur riba. Dilema mulai muncul saat instansi tempat saya bekerja menawarkan program asuransi untuk pegawainya. Ya, menawarkan, yang artinya program asuransi ini bersifat opsional, boleh tidak diikuti. Namun akhirnya saya putuskan untuk tidak mengikuti asuransi tersebut. Tidak murni karena saya tahu itu haram, tapi memang ketakutan karena asuransi masih diharamkan juga menjadi pertimbangan saya. Bahkan saya sampai berpikir, jangan-jangan karena mengikuti asuransi, yang tadinya sehat-sehat saja malah dikasih sakit.
Namun Alloh menguji saya dengan memberikan saya sakit yang membuat saya hampir dirawat inap di rumah sakit, dalam keadaan saya tidak memiliki tabungan sama sekali. Hal tersebut membuat saya berpikir untuk mengikuti asuransi yang ditawarkan oleh instansi tempat saya bekerja. Ditambah lagi dengan cerita rekan kerja saya betapa asuransi tersebut bermanfaat sekali ketika anaknya sakit. Sehingga kemudian di tahun berikutnya, ketika instansi tempat saya bekerja menawarkan kembali program asuransi tersebut, saya dengan yakin dan bersemangat pun mengikuti program tersebut.
Saya adalah orang yang cukup concern menjaga kesehatan. Saya menjaga pola makan dan pola hidup saya. Saya pun rajin berolahraga. Sehingga saya pun termasuk orang yang jarang sakit. Kalaupun sakit, biasanya dengan istirahat cukup dan minum vitamin saja, kondisi saya kembali pulih. Namun setelah saya mengikuti asuransi yang disediakan oleh instansi tempat saya bekerja, sampai saat ini, belum satu tahun asuransi tersebut berjalan, saya sudah tiga kali sakit yang cukup parah, yang memaksa saya untuk pergi ke dokter (dengan memanfaatkan asuransi tentu saja). Mulai terbersit dalam pikiran saya, apakah ini semua karena saya mengikuti asuransi.
Teman saya pun menyadari perbedaan kondisi kesehatan saya. Dia pun heran, saya yang tadinya sangat jarang sakit, kenapa sekarang sering sekali sakit. Pikiran bahwa mungkin ini semua karena saya mengikuti asuransi sangat mengganggu saya. Mungkin Alloh sedang menegur saya,mengembalikan saya ke jalan yang benar. Supaya saya tidak semakin salah jalan. Atau mungkin ini hukuman Alloh di dunia untuk saya, untuk meringankan siksa akhirat saya. Entahlah, mungkin memang sudah takdirnya saya sakit. Tapi saya sungguh ingin kembali ke jalan yang (menurut pemahaman saya) benar, yaitu tidak mengikuti asuransi. Bukankah Alloh telah berjanji, sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan?
Saya tahu, dengan saya berhenti mengikuti asuransi, belum tentu saya menjadi jarang sakit. Memang mungkin sudah menjadi takdir saya untuk sering sakit. Saya hanya ingin menjadi hamba yang bertaqwa, mengikuti apa yang Alloh perintahkan.
Terima kasih ya Alloh, sekali lagi Engkau memberiku hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.
Alloh menegurku... dengan halus... dengan penuh kasih sayang. Alhamdulillah
Dari pemahaman saya, dengan ilmu saya yang masih minim ini, yang saya tau asuransi (dalam post ini, asuransi = asuransi konvensional bukan asuransi syariah) dalam Islam adalah haram. Dari berbagai info yang saya cari, secara garis besar keharamannya disebabkan karena asuransi ini mirip judi,memiliki unsur spekulasi; kemudian ada unsur ketidakjelasan tentang kapan klaim akan diberikan dan jumlahnya; lalu adanya unsur riba. Dilema mulai muncul saat instansi tempat saya bekerja menawarkan program asuransi untuk pegawainya. Ya, menawarkan, yang artinya program asuransi ini bersifat opsional, boleh tidak diikuti. Namun akhirnya saya putuskan untuk tidak mengikuti asuransi tersebut. Tidak murni karena saya tahu itu haram, tapi memang ketakutan karena asuransi masih diharamkan juga menjadi pertimbangan saya. Bahkan saya sampai berpikir, jangan-jangan karena mengikuti asuransi, yang tadinya sehat-sehat saja malah dikasih sakit.
Namun Alloh menguji saya dengan memberikan saya sakit yang membuat saya hampir dirawat inap di rumah sakit, dalam keadaan saya tidak memiliki tabungan sama sekali. Hal tersebut membuat saya berpikir untuk mengikuti asuransi yang ditawarkan oleh instansi tempat saya bekerja. Ditambah lagi dengan cerita rekan kerja saya betapa asuransi tersebut bermanfaat sekali ketika anaknya sakit. Sehingga kemudian di tahun berikutnya, ketika instansi tempat saya bekerja menawarkan kembali program asuransi tersebut, saya dengan yakin dan bersemangat pun mengikuti program tersebut.
Saya adalah orang yang cukup concern menjaga kesehatan. Saya menjaga pola makan dan pola hidup saya. Saya pun rajin berolahraga. Sehingga saya pun termasuk orang yang jarang sakit. Kalaupun sakit, biasanya dengan istirahat cukup dan minum vitamin saja, kondisi saya kembali pulih. Namun setelah saya mengikuti asuransi yang disediakan oleh instansi tempat saya bekerja, sampai saat ini, belum satu tahun asuransi tersebut berjalan, saya sudah tiga kali sakit yang cukup parah, yang memaksa saya untuk pergi ke dokter (dengan memanfaatkan asuransi tentu saja). Mulai terbersit dalam pikiran saya, apakah ini semua karena saya mengikuti asuransi.
Teman saya pun menyadari perbedaan kondisi kesehatan saya. Dia pun heran, saya yang tadinya sangat jarang sakit, kenapa sekarang sering sekali sakit. Pikiran bahwa mungkin ini semua karena saya mengikuti asuransi sangat mengganggu saya. Mungkin Alloh sedang menegur saya,mengembalikan saya ke jalan yang benar. Supaya saya tidak semakin salah jalan. Atau mungkin ini hukuman Alloh di dunia untuk saya, untuk meringankan siksa akhirat saya. Entahlah, mungkin memang sudah takdirnya saya sakit. Tapi saya sungguh ingin kembali ke jalan yang (menurut pemahaman saya) benar, yaitu tidak mengikuti asuransi. Bukankah Alloh telah berjanji, sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan?
Saya tahu, dengan saya berhenti mengikuti asuransi, belum tentu saya menjadi jarang sakit. Memang mungkin sudah menjadi takdir saya untuk sering sakit. Saya hanya ingin menjadi hamba yang bertaqwa, mengikuti apa yang Alloh perintahkan.
Terima kasih ya Alloh, sekali lagi Engkau memberiku hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.
Alloh menegurku... dengan halus... dengan penuh kasih sayang. Alhamdulillah
Minggu, 18 Januari 2015
BALADA KARTU ATM
Rizki itu ada di tangan Alloh. Semua orang tahu itu. Dan semua orang bisa
mengucapkan kalimat itu. Tapi apakah mereka (dan saya) yang mengucapkan kalimat
itu benar-benar meyakininya. Wallohu a'lam bish-showab. Hanya Alloh yang tahu.
Mungkin bahkan diri saya sendiri tidak tahu apakah saya benar-benar meyakini
kalimat itu.
Sungguh banyak cara yang diberikan Alloh untuk mengajarkan kepada umatnya betapa besar kekuatan-Nya, dan betapa kecil daya kita hamba-hamba Alloh ini. Salah satunya Alloh mengajarkan kepada saya tentang misteri rizki ini melalui suatu musibah yang dialami teman saya (semoga ia diberikan ketabahan dan Alloh memberikan ganti yangl lebih baik kepadanya) yang akan saya tulis dalam tulisan kali ini.
Saya adalah tipe orang yang lebih memilih memegang uang cash dalam jumlah sedikit. Toh saya sering bepergian, jadi bisa sewaktu-waktu mampir ke ATM apabila membutuhkan uang lebih. Apalagi sekarang transaksi dimana-mana sudah lumrah menggunakan kartu debit yang sungguh sangat memudahkan. Dengan memgang uang cash dalam jumlah kecil, saya merasa menjadi lebih hemat, selain itu saya merasa lebih aman, karena apabila saya mendapat musibah seperti dompet saya tertinggal atau hilang, maka uang yang hilang tidak terlalu besar. Saya merasa tenang dengan kebiasaan saya memegang uang cash dalam jumlah kecil ini.
Namun suatu kejadian yang dialami teman saya membuat saya berpikir ulang. Kejadian ini berawal ketika teman saya mengambil uang di ATM Bank B, namun uang yang diambil tidak keluar, sedangkan saldo rekening milik teman saya berkurang. Akhirnya teman saya mengajukan laporan kepada bank yang bersangkutan. Bank yang bersangkutan berjanji akan segera memproses laporan pengaduan teman saya tersebut. Tapi ada kepesimisan yang dirasakan oleh teman saya ini. Pasalnya beberapa bulan sebelumnya, teman saya mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialaminya sekarang. Ketika ia mengambil uang di ATM bank M, uang yang keluar tidak sesuai dengan jumlah yang ia tarik. Ia menarik tunai sebesar 1 juta rupiah, namun uang yang keluar hanya 800ribu rupiah. Sedangkan saldo di rekeningnya berkurang sebesar 1juta rupiah. Dia langsung mengajukan laporan kepada bank M, yang pada akhirnya setelah melalui pengecekan bank M menjawab bahwa kekurangan uang teman saya ini tidak bisa diberikan karena berdasarkan pengecekan mesin ATM diketahui bahwa saldo di mesin ATM sudah balance. Seharusnya apabila ada kekurangan uang yang keluar dalam transaksi penarikan tunai, maka jumlah uang di mesin ATM tidak balance dengan jumlah tercatat. Seharusnya ada jumlah kelebihan uang di mesin ATM. Namun ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saldo uang di mesin ATM telah balance.
Setelah mendengar kejadian yang dialami teman saya ini, hilang sudah rasa tenang yang saya rasakan. Saya pikir dengan memegang uang cash dalam jumlah kecil, uang saya aman di bank, aman di mesin ATM. Ternyata apabila uang tersebut bukan rizki saya, mau disimpan dimana pun, uang itu tetap akan pergi dari saya, pergi ke pemilik sebenarnya.
Rizki memang benar-benar di tangan Alloh. Jika Ia menghendaki, maka dengan mudahnya apa yang kita sangka menjadi milik kita pergi begitu saja. Maka tenangkan hati hanya dengan menyerahkan segala urusan hanya kepapda Alloh.
Sungguh banyak cara yang diberikan Alloh untuk mengajarkan kepada umatnya betapa besar kekuatan-Nya, dan betapa kecil daya kita hamba-hamba Alloh ini. Salah satunya Alloh mengajarkan kepada saya tentang misteri rizki ini melalui suatu musibah yang dialami teman saya (semoga ia diberikan ketabahan dan Alloh memberikan ganti yangl lebih baik kepadanya) yang akan saya tulis dalam tulisan kali ini.
Saya adalah tipe orang yang lebih memilih memegang uang cash dalam jumlah sedikit. Toh saya sering bepergian, jadi bisa sewaktu-waktu mampir ke ATM apabila membutuhkan uang lebih. Apalagi sekarang transaksi dimana-mana sudah lumrah menggunakan kartu debit yang sungguh sangat memudahkan. Dengan memgang uang cash dalam jumlah kecil, saya merasa menjadi lebih hemat, selain itu saya merasa lebih aman, karena apabila saya mendapat musibah seperti dompet saya tertinggal atau hilang, maka uang yang hilang tidak terlalu besar. Saya merasa tenang dengan kebiasaan saya memegang uang cash dalam jumlah kecil ini.
Namun suatu kejadian yang dialami teman saya membuat saya berpikir ulang. Kejadian ini berawal ketika teman saya mengambil uang di ATM Bank B, namun uang yang diambil tidak keluar, sedangkan saldo rekening milik teman saya berkurang. Akhirnya teman saya mengajukan laporan kepada bank yang bersangkutan. Bank yang bersangkutan berjanji akan segera memproses laporan pengaduan teman saya tersebut. Tapi ada kepesimisan yang dirasakan oleh teman saya ini. Pasalnya beberapa bulan sebelumnya, teman saya mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialaminya sekarang. Ketika ia mengambil uang di ATM bank M, uang yang keluar tidak sesuai dengan jumlah yang ia tarik. Ia menarik tunai sebesar 1 juta rupiah, namun uang yang keluar hanya 800ribu rupiah. Sedangkan saldo di rekeningnya berkurang sebesar 1juta rupiah. Dia langsung mengajukan laporan kepada bank M, yang pada akhirnya setelah melalui pengecekan bank M menjawab bahwa kekurangan uang teman saya ini tidak bisa diberikan karena berdasarkan pengecekan mesin ATM diketahui bahwa saldo di mesin ATM sudah balance. Seharusnya apabila ada kekurangan uang yang keluar dalam transaksi penarikan tunai, maka jumlah uang di mesin ATM tidak balance dengan jumlah tercatat. Seharusnya ada jumlah kelebihan uang di mesin ATM. Namun ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saldo uang di mesin ATM telah balance.
Setelah mendengar kejadian yang dialami teman saya ini, hilang sudah rasa tenang yang saya rasakan. Saya pikir dengan memegang uang cash dalam jumlah kecil, uang saya aman di bank, aman di mesin ATM. Ternyata apabila uang tersebut bukan rizki saya, mau disimpan dimana pun, uang itu tetap akan pergi dari saya, pergi ke pemilik sebenarnya.
Rizki memang benar-benar di tangan Alloh. Jika Ia menghendaki, maka dengan mudahnya apa yang kita sangka menjadi milik kita pergi begitu saja. Maka tenangkan hati hanya dengan menyerahkan segala urusan hanya kepapda Alloh.
Semoga
Alloh senantiasa mencukupi kita semua
Dengan
rizki yang halal
Penuh
barokah
Dan
membawa kebaikan
Baik di dunia maupun di
akhirat
Aamiin
Langganan:
Komentar (Atom)