Apa yang saya tulis kali ini adalan merupakan buah pemikiran pribadi. Tidak ada maksud untuk men-judge, menilai, atau menyalahkan. Semua hanya murni pemikiran pribadi. Dan tentu saja saya terbuka atas kritik dan saran yang diberikan kepada saya, tapi dengan hormat saya tidak ingin ada perdebatan.
Dari pemahaman saya, dengan ilmu saya yang masih minim ini, yang saya tau asuransi (dalam post ini, asuransi = asuransi konvensional bukan asuransi syariah) dalam Islam adalah haram. Dari berbagai info yang saya cari, secara garis besar keharamannya disebabkan karena asuransi ini mirip judi,memiliki unsur spekulasi; kemudian ada unsur ketidakjelasan tentang kapan klaim akan diberikan dan jumlahnya; lalu adanya unsur riba. Dilema mulai muncul saat instansi tempat saya bekerja menawarkan program asuransi untuk pegawainya. Ya, menawarkan, yang artinya program asuransi ini bersifat opsional, boleh tidak diikuti. Namun akhirnya saya putuskan untuk tidak mengikuti asuransi tersebut. Tidak murni karena saya tahu itu haram, tapi memang ketakutan karena asuransi masih diharamkan juga menjadi pertimbangan saya. Bahkan saya sampai berpikir, jangan-jangan karena mengikuti asuransi, yang tadinya sehat-sehat saja malah dikasih sakit.
Namun Alloh menguji saya dengan memberikan saya sakit yang membuat saya hampir dirawat inap di rumah sakit, dalam keadaan saya tidak memiliki tabungan sama sekali. Hal tersebut membuat saya berpikir untuk mengikuti asuransi yang ditawarkan oleh instansi tempat saya bekerja. Ditambah lagi dengan cerita rekan kerja saya betapa asuransi tersebut bermanfaat sekali ketika anaknya sakit. Sehingga kemudian di tahun berikutnya, ketika instansi tempat saya bekerja menawarkan kembali program asuransi tersebut, saya dengan yakin dan bersemangat pun mengikuti program tersebut.
Saya adalah orang yang cukup concern menjaga kesehatan. Saya menjaga pola makan dan pola hidup saya. Saya pun rajin berolahraga. Sehingga saya pun termasuk orang yang jarang sakit. Kalaupun sakit, biasanya dengan istirahat cukup dan minum vitamin saja, kondisi saya kembali pulih. Namun setelah saya mengikuti asuransi yang disediakan oleh instansi tempat saya bekerja, sampai saat ini, belum satu tahun asuransi tersebut berjalan, saya sudah tiga kali sakit yang cukup parah, yang memaksa saya untuk pergi ke dokter (dengan memanfaatkan asuransi tentu saja). Mulai terbersit dalam pikiran saya, apakah ini semua karena saya mengikuti asuransi.
Teman saya pun menyadari perbedaan kondisi kesehatan saya. Dia pun heran, saya yang tadinya sangat jarang sakit, kenapa sekarang sering sekali sakit. Pikiran bahwa mungkin ini semua karena saya mengikuti asuransi sangat mengganggu saya. Mungkin Alloh sedang menegur saya,mengembalikan saya ke jalan yang benar. Supaya saya tidak semakin salah jalan. Atau mungkin ini hukuman Alloh di dunia untuk saya, untuk meringankan siksa akhirat saya. Entahlah, mungkin memang sudah takdirnya saya sakit. Tapi saya sungguh ingin kembali ke jalan yang (menurut pemahaman saya) benar, yaitu tidak mengikuti asuransi. Bukankah Alloh telah berjanji, sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan?
Saya tahu, dengan saya berhenti mengikuti asuransi, belum tentu saya menjadi jarang sakit. Memang mungkin sudah menjadi takdir saya untuk sering sakit. Saya hanya ingin menjadi hamba yang bertaqwa, mengikuti apa yang Alloh perintahkan.
Terima kasih ya Alloh, sekali lagi Engkau memberiku hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.
Alloh menegurku... dengan halus... dengan penuh kasih sayang. Alhamdulillah
Minggu, 25 Januari 2015
Minggu, 18 Januari 2015
BALADA KARTU ATM
Rizki itu ada di tangan Alloh. Semua orang tahu itu. Dan semua orang bisa
mengucapkan kalimat itu. Tapi apakah mereka (dan saya) yang mengucapkan kalimat
itu benar-benar meyakininya. Wallohu a'lam bish-showab. Hanya Alloh yang tahu.
Mungkin bahkan diri saya sendiri tidak tahu apakah saya benar-benar meyakini
kalimat itu.
Sungguh banyak cara yang diberikan Alloh untuk mengajarkan kepada umatnya betapa besar kekuatan-Nya, dan betapa kecil daya kita hamba-hamba Alloh ini. Salah satunya Alloh mengajarkan kepada saya tentang misteri rizki ini melalui suatu musibah yang dialami teman saya (semoga ia diberikan ketabahan dan Alloh memberikan ganti yangl lebih baik kepadanya) yang akan saya tulis dalam tulisan kali ini.
Saya adalah tipe orang yang lebih memilih memegang uang cash dalam jumlah sedikit. Toh saya sering bepergian, jadi bisa sewaktu-waktu mampir ke ATM apabila membutuhkan uang lebih. Apalagi sekarang transaksi dimana-mana sudah lumrah menggunakan kartu debit yang sungguh sangat memudahkan. Dengan memgang uang cash dalam jumlah kecil, saya merasa menjadi lebih hemat, selain itu saya merasa lebih aman, karena apabila saya mendapat musibah seperti dompet saya tertinggal atau hilang, maka uang yang hilang tidak terlalu besar. Saya merasa tenang dengan kebiasaan saya memegang uang cash dalam jumlah kecil ini.
Namun suatu kejadian yang dialami teman saya membuat saya berpikir ulang. Kejadian ini berawal ketika teman saya mengambil uang di ATM Bank B, namun uang yang diambil tidak keluar, sedangkan saldo rekening milik teman saya berkurang. Akhirnya teman saya mengajukan laporan kepada bank yang bersangkutan. Bank yang bersangkutan berjanji akan segera memproses laporan pengaduan teman saya tersebut. Tapi ada kepesimisan yang dirasakan oleh teman saya ini. Pasalnya beberapa bulan sebelumnya, teman saya mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialaminya sekarang. Ketika ia mengambil uang di ATM bank M, uang yang keluar tidak sesuai dengan jumlah yang ia tarik. Ia menarik tunai sebesar 1 juta rupiah, namun uang yang keluar hanya 800ribu rupiah. Sedangkan saldo di rekeningnya berkurang sebesar 1juta rupiah. Dia langsung mengajukan laporan kepada bank M, yang pada akhirnya setelah melalui pengecekan bank M menjawab bahwa kekurangan uang teman saya ini tidak bisa diberikan karena berdasarkan pengecekan mesin ATM diketahui bahwa saldo di mesin ATM sudah balance. Seharusnya apabila ada kekurangan uang yang keluar dalam transaksi penarikan tunai, maka jumlah uang di mesin ATM tidak balance dengan jumlah tercatat. Seharusnya ada jumlah kelebihan uang di mesin ATM. Namun ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saldo uang di mesin ATM telah balance.
Setelah mendengar kejadian yang dialami teman saya ini, hilang sudah rasa tenang yang saya rasakan. Saya pikir dengan memegang uang cash dalam jumlah kecil, uang saya aman di bank, aman di mesin ATM. Ternyata apabila uang tersebut bukan rizki saya, mau disimpan dimana pun, uang itu tetap akan pergi dari saya, pergi ke pemilik sebenarnya.
Rizki memang benar-benar di tangan Alloh. Jika Ia menghendaki, maka dengan mudahnya apa yang kita sangka menjadi milik kita pergi begitu saja. Maka tenangkan hati hanya dengan menyerahkan segala urusan hanya kepapda Alloh.
Sungguh banyak cara yang diberikan Alloh untuk mengajarkan kepada umatnya betapa besar kekuatan-Nya, dan betapa kecil daya kita hamba-hamba Alloh ini. Salah satunya Alloh mengajarkan kepada saya tentang misteri rizki ini melalui suatu musibah yang dialami teman saya (semoga ia diberikan ketabahan dan Alloh memberikan ganti yangl lebih baik kepadanya) yang akan saya tulis dalam tulisan kali ini.
Saya adalah tipe orang yang lebih memilih memegang uang cash dalam jumlah sedikit. Toh saya sering bepergian, jadi bisa sewaktu-waktu mampir ke ATM apabila membutuhkan uang lebih. Apalagi sekarang transaksi dimana-mana sudah lumrah menggunakan kartu debit yang sungguh sangat memudahkan. Dengan memgang uang cash dalam jumlah kecil, saya merasa menjadi lebih hemat, selain itu saya merasa lebih aman, karena apabila saya mendapat musibah seperti dompet saya tertinggal atau hilang, maka uang yang hilang tidak terlalu besar. Saya merasa tenang dengan kebiasaan saya memegang uang cash dalam jumlah kecil ini.
Namun suatu kejadian yang dialami teman saya membuat saya berpikir ulang. Kejadian ini berawal ketika teman saya mengambil uang di ATM Bank B, namun uang yang diambil tidak keluar, sedangkan saldo rekening milik teman saya berkurang. Akhirnya teman saya mengajukan laporan kepada bank yang bersangkutan. Bank yang bersangkutan berjanji akan segera memproses laporan pengaduan teman saya tersebut. Tapi ada kepesimisan yang dirasakan oleh teman saya ini. Pasalnya beberapa bulan sebelumnya, teman saya mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialaminya sekarang. Ketika ia mengambil uang di ATM bank M, uang yang keluar tidak sesuai dengan jumlah yang ia tarik. Ia menarik tunai sebesar 1 juta rupiah, namun uang yang keluar hanya 800ribu rupiah. Sedangkan saldo di rekeningnya berkurang sebesar 1juta rupiah. Dia langsung mengajukan laporan kepada bank M, yang pada akhirnya setelah melalui pengecekan bank M menjawab bahwa kekurangan uang teman saya ini tidak bisa diberikan karena berdasarkan pengecekan mesin ATM diketahui bahwa saldo di mesin ATM sudah balance. Seharusnya apabila ada kekurangan uang yang keluar dalam transaksi penarikan tunai, maka jumlah uang di mesin ATM tidak balance dengan jumlah tercatat. Seharusnya ada jumlah kelebihan uang di mesin ATM. Namun ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saldo uang di mesin ATM telah balance.
Setelah mendengar kejadian yang dialami teman saya ini, hilang sudah rasa tenang yang saya rasakan. Saya pikir dengan memegang uang cash dalam jumlah kecil, uang saya aman di bank, aman di mesin ATM. Ternyata apabila uang tersebut bukan rizki saya, mau disimpan dimana pun, uang itu tetap akan pergi dari saya, pergi ke pemilik sebenarnya.
Rizki memang benar-benar di tangan Alloh. Jika Ia menghendaki, maka dengan mudahnya apa yang kita sangka menjadi milik kita pergi begitu saja. Maka tenangkan hati hanya dengan menyerahkan segala urusan hanya kepapda Alloh.
Semoga
Alloh senantiasa mencukupi kita semua
Dengan
rizki yang halal
Penuh
barokah
Dan
membawa kebaikan
Baik di dunia maupun di
akhirat
Aamiin
DIVERGENT IN MY PERSPECTIVE
Fri, Sept 19th, 2014
DIVERGENT. Secaran
bahasa berarti berbeda atau berlainan. Dalam bahasa Inggris disinonimkan dengan
different, distict, diverse, dan
lain-lain. Ini adalah merupakan judul novel fiksi ilmiah karya penulis Amerika
Serikat bernama Veronica Roth. Novel ini merupakan seri pertama dari novel
trilogi Divergent. Novel ini kemudian
diadaptasi menjadi sebuah film oleh Summit Entertainment pada tahun 2014.
Secara singkat novel ini bercerita tentang sebuah lokasi
(dalam novel dituliskan adalah kota Chicago di masa depan) yang memiliki
penduduk yang dikotak-kotakkan menjadi beberapa faksi menurut karakter mereka
masing-masing. Faksi-faksi tersebut antara lain, faksi Candor yang memiliki sifat jujur (di dalam film digambarkan
seolah-olah bekerja di pengadilan), faksi Erudite
yang merupakan orang-orang jenius (di dalam film digambarkan bekerja di
laboratorium), faksi Amity yang
memiliki sifat suka damai, selalu bahagia, dan suka hidup dalam keharmonisan
(yang entah kenapa di dalam film digambarkan sebagai petani yang mengolah
lahan). Dua faksi berikutnya adalah Dauntless
yang memiliki sifat pemberani sehingga mereka bertugas menjadi polisi penjaga
keamanan untuk mengamankan kota dan faksi Abnegatioan
yang memiliki sifat penolong. Faksi Abnegation
ini berjiwa sosial bahkan mereka menampung orang-orang yang tidak masuk ke
dalam 5 faksi yang ada (di dalam film digambarkan seperti gelandangan). Karea
kecenderungan Abnegation untuk
melayani masyarakat, mereka dipercaya menjadi pengelola pemerintahan.
Adalah Tris Prior (pada awal film
bernama Beatrice Prior) putri dari Andrew Prior yang merupakan salah satu
petinggi faksi Abnegation telah
menginjak usia dewasa, sehingga ia harus menjalani semacam tes kepribadian
untuk menentukan di faksi manakah dia akan bergabung. Namun yang sungguh
mengejutkan ternyata Tris memiliki kepribadian Abnegation, Erudite, dan Dauntless.
Petugas yang melakukan pengujian kepadanya memasukkannya ke dalam faksi Abnegation secara manual, dan meminta
Tris segera meninggalkan lokasi ujian dan tidak mengatakan kepada siapapun
tentang hasil uji kepribadian yang sesungguhnya. Orang semacam Tris ternyata
disebut divergent, yang mana oleh
kebanyakan orang dianggap berbahaya karena dapat merusak sistem faksi.
Tris yang sejak kecil telah mengagumi
Dauntless yang menurutnya lepas,
bebas, dan pemberani, memutuskan untuk memilih Dauntless sebagai faksinya pada hari pemilihan. Dalam masyarakat
ini, faksi di atas keluarga, yang artinya ketika Tris memutuskan untuk menjadi
seorang Dauntless, maka ia harus
meninggalkan keluarganya. Untuk menjadi anggota Dauntless ternyata tidak mudah bagi Tris. Ia harus melewati
berbagai pelatihan dan ujian. Pelatihan dan ujian itu membuatnya mengenal lebih
dekat instrukturnya yang bernama Four yang kelak menjadi kekasihnya.
Konflik utama dalam film ini
adalah ketika pimpinan Erudite merasa
bahwa faksi mereka lah yang seharusnya menjalankan pemerintahan dan bukannya
faksi Abnegation. Konfilk diperparah
dengan tidak setujunya Erudite atas
keputusan Abnegation untuk menampung para Divergent (Erudite merasa
Divergent harusnya dibunuh). Dengan
hasil penelitian mereka Erudite
memanipulasi faksi Dauntless
menggunakan sebuah serum yang merubah Dauntless
menjadi semacam robot yang tidak sadar dan digerakkan oleh mesin pengontrol
untuk menggulingkan faksi Abnegation.
Disinilah Tris dan Four berjuang bersama untuk mengahalangi Erudite menghansurkan Abnegation.
Pesan moral yang paling menyentuh
saya dari film ini adalah bahwa begitu pentingnya ilmu pengetahuan dalam
kehidupan kita sehari-hari. Karena terbukti Erudite
yang jenius ternyata dapat memanfaatkan pengetahuan mereka untuk
mengalahkan yang mereka anggap musuh. Dan disinilah juga pentingnya
menyeimbangkan apa yang disebut IQ dengan EQ dalam kehidupan nyata. Karena IQ
tanpa didampingi dengan EQ yang baik tentu menjadi rawan untuk disalahgunakan.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang baik intelektualitas maupun
spiritualitas. Saya rasa itulah nilai yang dapat saya ambil dalam film ini.
Kuat dalam spiritual namun tidak peduli dengan ilmu penetahuan hanya akan
membuat kita dibodohi oleh mereka yang lebih cerdas. Namun janganlah menjadikan
ilmu pengetahuan segalanya, karena ilmu pengetahuan ini tanpa didampingi dengan
kualitas spiritual niscaya hanya akan membawa kesesatan.
Sekian sedikit tulisan tentang
buah pemikiran saya yang terus berusaha mengambil setiap pelajaran dari semua
kejadian yang ada, bahkan ketika saya sedang melihat suatu film. Semoga
bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, dan saya pada khususnya. Terima
kasih, sampai jumpa di tulisan berikutnya
Semoga Alloh memberi kemampuan untuk
membedakan
yang baik dan yang buruk
sehingga kita tidak tersesat
aamiin
Minggu, 09 Februari 2014
99 CAHAYA DI LANGIT EROPA
99 Cahaya
di Langit Eropa & Berjalan di Atas Cahaya.......
Adalah Adi, seorang teman saya yang memiliki
sebuah kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Setelah lebih dari 5 tahun
menjalin cinta dengan Rani, Adi terpaksa menelan kekecewaan karena Rani memilih
lelaki lain untuk dinikahi. Namun, cerita pasti hubungan asmara mereka dan
bagaimana cerita itu berakhir (unhappily)
adalah cerita yang bukan merupakan inti dari tulisan saya kali ini. Tulisan
saya kali ini akan menceritakan bagaimana Alloh Maha Baik terhadap hambaNya
yang meminta, termasuk hambanya yang meminta hidayah. Dan betapa hidayah tidak
hanya hadir dalam sebuah kajian atau pertemuan di masjid. Hidayah dapat datang
dari sebuah hal kecil semisal novel ringan tentang perjalanan seseorang di
benua biru.
Berawal dari makan siang bersama Adi dan
teman-teman yang lain di sebuah mall di bilangan Jakarta Barat, saya menemukan
sebuah novel yang kelak memberikan 'pencerahan kepada saya. Judul novel
tersebut telah saya tulis di awal tulisan saya ini, dan saya yakin Anda semua
banyak yang mengenal novel tersebut. Novel tersebut kini sedang dalam proses
untuk diadaptasi menjadi sebuah film. Jasa Adi dalam proses saya menemukan
novel ini adalah ketika ia meminta saya untuk membeli novel tersebut sebagai
kado pernikahan bagi Rani. Kenapa ia tak membeli sendiri novel ini sudah tentu
dapat saya duga alasannya, tapi mengapa novel ringan yang tidak ada hubungannya
dengan pernikahan menjadi pilihan Adi untuk dihadiahkan kepada Rani memang
masih membingungkan. Saya tidak berani banyak bertanya, namun saya menduga
bahwa ini memang request dari Rani.
Saya dengar pun, mereka berdua masih memiliki hubungan yang baik. Sungguh suatu
hal yang langka melihat 2 orang yang akhirnya berpisah dapat berbesar hati
untuk tetap menjadi teman.
Singkat cerita, ketika sedang antri hendak
membayar novel tersebut di kasir, saya membaca sinopsis dan review dari novel tersebut di halaman
belakang novel. Akhirnya saya tahu, bahwa seorang Hanum Salsabiela Rais, yang
merupakan putri dari politisi terkenal Indonesia Amien Rais, bersama dengan
suami dan teman-temannya lah yang telah menulis novel tersebut. Novel tersebut
berisi tentang peristiwa-peristiwa menarik yang dialami Hanum ketika ia berada
di Eropa, dalam rangka mengikuti suaminya yang sedang melanjutkan pendidikan
doktoral di Austria. Cukup menarik, begitu pikir saya setelah membaca sinopsis
novel tersebut.
Cerita berlanjut ketika saya akhirnya (pada hari
yang lain) membeli novel tersebut untuk saya sendiri. Dan setelah saya baca,
malam itu saya tidak ingin tidur karena tidak ingin berhenti membaca novel
tersebut. Kala itu saya membaca buku pertama yang berjudul 99 Cahaya di Langit
Eropa. Hanum berhasil menyuguhkan gambaran lain tentang Eropa. Eropa tidak
hanya melulu tentang keindahan dan kemewahan, namun di Eropa ternyata ada jejak
Islam yang mengagumkan. Dan menurut saya, keberuntungan Hanum yang lain adalah
karena dia bertemu dengan orang-orang hebat yang dapat ia ceritakan dalam
novelnya tersebut. Sebut saja Fatma, lalu ada seorang kenalannya yang merupakan
mualaf yang berasal dari Prancis, Tuti Amaliyah, dan lain-lain.
Saya merasakan hidayah itu merasuki dada saya,
ketika saya membaca buku kedua yang berjudul Berjalan di Atas Cahaya. Jujur,
saya merasa malu setelah selesai membaca kedua novel tersebut. Kedua novel
tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan muslim sebagai minoritas di benua
yang terkenal dengan sekulerismenya. Betapa adzan disana adalah sesuatu yang
akan kau rindukan, karena adzan dilarang berkumandang dengan alasan akan
mengganggu. Betapa Rangga, suami Hanum pernah ditegur oleh atasannya hanya
karena ia mengerjakan shalat di ruang kerja pribadinya. Dan betapa sulit untuk
mencari sebuah pekerjaan di Eropa, hanya karena kau seorang muslim. Namun
mereka bertahan. Mereka tidak goyah. Bahkan mereka bertekad menjadi agen muslim
yang dapat menunjukkan kepada orang-orang yang sudah terlanjur memiliki
persepsi miring tentang apa itu islam sebenarnya. Mereka berjuang menunjukkan
bagaimana islam dapat disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil 'aalamiin, dengan tetap menegakkan syariat, yang sampai saat ini saya
rasa saya masih jauh dari itu, padahal saya di Indonesia.
Ya, saya di Indonesia. Suatu negeri yang walaupun
tidak menjadikan hukum islam sebagai hukum dasar negara, namun adzan dapat
berkumandang 5 kali sehari. Bersahut-sahutan dengan menggunakan mikrofon. Namun
entah berapa banyak muslim di negara ini, termasuk saya bahkan, sibuk
mendengarkan yang lain saat alunan yang dirindukan oleh saudara kita di Eropa
itu berkumandang. Di Indonesia, paling tidak di tempat saya bekerja, seorang
atasan akan mahfum apabila anak buahnya tidak ada di ruang kerjanya dengan
alasan sedang sholat. Bukan, bukan untuk sholat wajib, namun hanya untuk
sekedar sholat sunah. Di Indonesia, jika kau saudaraku di Eropa, mengaku
sebagai muslim, bahkan mengenakan hijab dalam keseharianmu, kau tidak perlu
khawatir akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ah, sungguh saya kufur nikmat.
Saya lahir di negeri ini dalam keadaan islam, dengan segala kemudahannya, namun
banyak syariat yang belum saya laksanakan. Padahal di sana, saudaraku
mati-matian berjuang menjalankan syariat dengan segala tantangan dan ancaman.
Ada sebuah cerita di dalam novel Berjalan di Atas
Cahaya yang menceritakan keirian saudari kita dari Serbia kepada muslim
Indonesia karena ia ditakdirkan untuk menjadi muslim sejak lahir, sehingga
menjadi muslim adalah bukan merupakan suatu pencarian jati diri yang cukup
melelahkan. Muslimah dari Serbia tersebut iri betapa muslimah dari Indonesia
tidak perlu membujuk keluarganya, hanya untuk mengijinkannya mengenakan hijab. Sungguh
malu saya memandang diri saya setelah membaca kisah tersebut. Kalaulah ia,
muslimah Serbia tersebut bertemu dengan saya, mungkin ia tidak akan iri, namun
ia akan menangis. Menangis menyayangkan saya yang kufur nikmat, karena dengan
segala kemudahan yang diberikan Allah kepada saya, saya masih berat menjalankan
syariatnya. Menangis berharap senadainya saya dan dia dapat bertukar tempat.
Ah saudariku, aku mungkin tidak tahu bagaimana
rupamu. Kau tidak mengenalku. Aku pun hanya mengenalmu melalui sebuah novel.
Tapi Allah mengirimkanmu sebagai hidayah untukku. Karena membaca ceritamu, aku
jadi malu dengan diriku. Aku malu kepada Tuhanku. Aku menangis dan berdoa, Ya
Allah ijinkan aku untuk menjalankan syariatMu dan bantulah aku untuk istiqamah
di jalanMu. Detik itu, saya bertekad untuk memperbaiki diri saya, terutama
dalam bidang agama. Saya juga ingin menjadi agen muslim. Menunjukkan kepada
dunia, apa dan bagaimana islam yang rahmatan
lil 'aalaamin.
Senin, 7 Oktober 2013
Semoga istiqamah adalah salah satu nikmat
yang akan diberikan Allah untukku..
Aamiin..
Catatan :
Adi dan Rani adalah nama yang telah penulis samarkan dengan maksud
tidak membuka cerita tentang orang lain sehingga menghindari ghibah dan fitnah.
Langganan:
Postingan (Atom)